Majelis Ta’lim Arrusydah
Sabtu, 18 Januari 2020
Kajian Kitab ‘Iqdul Juman
Ustadzah Farid Aisyah BSA
بسم الله الر حمن الر حيم
Al habib Zein bin Smith, didalam salah satu nasehatnya berkata
“Jika kita tidak lagi mendengar kalam Allah, kamu tidak lagi mendengar kalamnya Sayyid Wa La Adnan ( Nabi Muhammad ), kamu juga tidak mendengarkan kata ulama, kalau sudah Qur’an, hadis, dan kata ulama tidak kamu dengar. Kamu mau dengar kata siapa lagi? Mau minta pertolongan sama siapa lagi?”
Hakikatnya kita hanya membaca, tidak mendengarkan-nya dengan seksama
Kalau ada yang ingin, Allah mengajaknya bicara, maka bacalah Al-Qur’an. Jika kita ingin bicara dengan Allah, maka Sholatlah.
Dengan kalamnya Allah, kita sering kali baca tanpa peduli paham atau tidak.
Lalu kau sering belajar hadits Nabi, kamu juga tidak mendengarkan kalam Nabi. Yg dijuluki Sayyid Wala Adnan.
Kamu tidak ingin mentadabburi?
“Sholatlah kamu sebagai mana aku sholat” hadits Nabi itu, harus dipahami dengan betul. Bahwa kalimat itu berarti, kita diharuskan sholat tata caranya sama dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi.
Nabi berpesan “kalau kamu mau sholat, hendaknya kamu itu tenang dulu”
Nabi berkata “Perempuan saat keluar dari rumah, dihiasi oleh syaitan”
Nabi sudah banyak berpesan kepada kita, namun tidak kita amalkan.
Di Indonesia, muslimnya tidak tertindas, dikarenakan ulamanya masih bisa meneriakkan ketidakbenaran.
Orang munafik, yang tidak mau mendengarkan kata Allah. Hatinya sudah dikunci, tidak bisa menerima kebaikan. Matanya sudah tidak bisa melihat kebenaran, telinganya sudah tidak bisa mendengar yang benar, hatinya sudah dikunci oleh Allah. Ada penghalang yang sangat tebal. Dan bagi mereka adalah siksa yang paling pedih.
Kata ulama, baca surat Al-Zalzalah, dan surat Al-Qari’ah dengan tadabbur, lebih aku cintai sama ulama, dari pada kita baca 1 Qur’an penuh, tapi tidak mengerti apa-apa.
Allah berkata “Apabila aku turunkan Al-Quran ini digunung, maka kau akan dapati gunung itu bergetar, karena kekhusyuan-nya dan ketakutannya.”
Berapa banyak orang yang saat dibacakan Al-Qur’an, masih banyak yang bicara, tidak bisa diam sampai harus ditegur dahulu. Dimana kesadarannya?
Kalau kita sudah tidak mendengarkan Al-Qur’an, hadits, dan kalam ulama. Lantas kita ingin minta tolong kepada siapa? Karena tidak ada yang bisa memberikan syafaat selain ke tiga (hal) itu.
Bacalah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu dihari kiamat akan datang menolong kita dihari kiamat.
Hadits, Rasulullah berkata “Siapa yang hafal 40 hadist ku, maka kelak dihari kiamat akan aku berikan syafaat“.
Kata ulama, imam Syafi’i berkata “aku mencintai orang-orang sholeh, walaupun aku bukan orang sholeh, karena dihari kiamat nanti aku akan mendapatkan syafaat dari orang orang sholeh itu”
Nasehat Allah, Rasulullah, dan Ulama. Hakikatnya semua kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri.
Kalau sudah tidak mau mendengarkan itu semua, tunggulah kehancuran.
“Hendaknya bagi orang-orang yang menuntut ilmu, membaca kitab Iqdul Yawaqit karangan Al-Habib ‘Idrus bin Umar Al Habsy”. Kitab ini berisi tentang siroh(sejarah) para salafunassholeh.
Kenapa kita disuruh baca kitab itu? Karena untuk memotivasi kita dalam beribadah.
Karena setiap kali kita baca kitab, maka sama halnya seperti disuntik, energi kita semakin bertambah .
Menuntut ilmu itu, hakikatnya bukan hanya duduk manis. Tapi harus ada tujuannya, ingin seperti siapa.
Penuntut ilmu, hendaknya harus mencari panutannya.
والله أعلمُ بالـصـواب