MT Almanshurriyah
Jumat, 28 Februari 2020, Pukul 13.00
Kajian Kitab Nasoikhud Diniyah
Ustadzah Aisyah Farid BSA
بسم الله الر حمن الر حيم
Orang yang mengakui kekurangan dirinya dalam ketaatan adalah orang yang terpuji. Mengakui kekurangannya dalam beramal, tanda diterimanya amal.
Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tidak ada orang yang sempurna.
Manusia itu pasti punya kekurangan, dan kekurangan yang kita miliki ini, seringkali dilihatnya oleh orang lain, bukan dengan diri kita sendiri.
Jika ada orang yang mengatakan kejelekan kita, maka percayalah, siapa tau orang itu berkata benar.
Jika ada orang yang mengatakan kejelekan kita, seharusnya kita langsung bercermin. Dan memperbaiki diri. Jangan malah dibilang kejelekannya, lalu membalikkan kejelekan itu ke orang yang mengatakannya.
Orang yang mengakui ketaatan dalam dirinya, maka dia itu terpuji. Merendah karena sadar bahwa dia itu ada kekurangan.
Jika kita dapat mengakui kejelekan kita, maka kita itu hebat.
Orang-orang alim, sudah memiliki banyak amal saja, mengatakan bahwa mereka itu tidak punya amal. Bagaimana dengan kita? yang cuma beramal sedikit, tapi merasa amal kita itu sudah banyak.
Orang yang terpuji itu yang selalu merasa kurang dalam beramal. Jangan pernah merasa cukup.
Pedulinya kita sama kurangnya amal lebih baik, dari pada peduli banyaknya amal.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata “kita lebih peduli ibadah kita diterima atau tidak oleh Allah, dibandingkan peduli pada banyaknya amal kita”
Ulama berkata “jadikanlah kekurangan orang, sebagai kekurangan diri kita juga” dan Ulama pun berkata “Belajarlah adab dari orang yang kurang ajar” begitulah orang yang memandang dari pandangan ibroh/itibar.
Segala sesuatu yang kita lihat, harus kita pelajari apa manfaatnya.
Jadi kenalilah kekurangan diri kita sendiri karena itu adalah hal yang baik, jangan selalu merasa sempurna.
Jangan selalu merasa bisa mengerjakan apa yang orang lain bisa. Lakukanlah apa yang kamu bisa (lakukan) dengan sempurna.
Mengakui kekurangan diri dalam beramal, maka itu adalah tanda diterimanya amal.
Karena saat dia merasa kurang dalam beramal, mungkin sesungguhnya Allah itu sedang menerimanya. Karena Allah senang melihat hambanya berharap hanya kepada Allah.
Karena didalam hidup itu kita harus punya 2 rasa, yaitu berharap dan takut.
Berharap akan diterimanya amal, dan takut bahwa amalnya tidak diterima.
Nabi Ibrahim pada saat selesai membangun Ka’bah, berdoa :
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمْ، وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Berharap diterima amalnya, sekaligus meminta ampunan karena takut amalnya itu ada salah niat atau ada kekurangan sehingga amalnya tidak diterima.
Saat kita melakukan sebuah amalan atau ibadah apapun, bacalah doa itu jangan pernah ditinggal. Karena amal kita pun jauh dari kata sempurna, sehingga kita harus banyak banyak berharap dan memohon ampun kepada Allah akan amal kita.
Maka dari sekarang, kita itu harus belajar, saat ibadah jangan sampai ujub. Seperti kata-kata “Saya tidak menyangka kalau saya bisa jadi seperti ini”, kata-kata ini adalah salah, harusnya berkata “Saya merasa takjub sama Allah, yang segitu baiknya membuat saya seperti ini“.
Seandainya dunia ini bernilai, seperti sayap nyamuk. Orang kafir tidak akan diberi minum walaupun seteguk.
Maka syukurilah nikmat, dan jangan pernah ujub. Karena semua yang kita miliki itu, datangnya dari Allah.
Dan janganlah kita selalu merasa cukup dalam ibadah, karena bisa jadi hal tersebut menjadikan kita tercela dimata Allah.
Menjadi orang baik itu tidak hanya bisa menjadi cita-cita, namun harus dengan usaha keras dalam meraihnya.
والله أعلمُ بالـصـواب